Sejarah Kampung Inggris – Hampir semua insyaAllah telah mengetahui siapa sosok di balik keberadaan Kampung Inggris Pare terutama yang sudah memiliki pengalaman di Kampung Inggris Pare. Pak Kalend Osen, beliau yang telah menginspirasi ribuan orang untuk belajar bahasa Inggris.

Sekelumit cerita tentang beliau,

Kalend Osen, begitu dia biasa dipanggil, seorang yang berasal dari tanah borneo ini menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur.

Seperti permasalahan klasik pendidikan pada saat ini, kendala ekonomi terasa berat bagi Kalend Muda. Dari tanah kelahirannya, Dia merantau dengan berbekal niat yang mulia untuk menuntut ilmu ke Pulau seberang. Namun, apa yang Kalend dapat? Dia terpaksa harus rela meninggalkan bangku pondok pesantren karena tidak sanggup lagi membayar biaya pendidikan.

Mungkin Kalend Osen tidak pernah menyangka niat tulus belajarnya berakhir seperti itu. Namun,  Tuhan berkehendak lain. Dari seseorang, dia mendengar, “Ada seseorang di salah satu kampung di Kediri yang mampu menguasai banyak bahasa.”Apa yang kemudian terjadi?.”

Dalam kondisi yang serba tak menentu, Kalend muda ingin menemui orang ini, untuk belajar darinya. Tentu saja,  karena belajar formal sudah tidak lagi memungkinkan untuknya. Pergilah dia menemui penguasa beragam bahasa ini.

Kyai Ahmad Yazid, begitu warga setempat memanggilnya. Bergurulah Kalend muda kepada Kyai Ahmad Yazid ini. Hal yang ia pelajari pertama dari beliau adalah bahasa inggris.

Waktu terus berjalan, Kalend muda akhirnya menemukan tempat baru untuk mengekspresikan niat mulianya, BELAJAR. Sedikit demi sedikit Kalend Osen belajar Bahasa Inggris, hingga tiba pada suatu saat dimana segalanya dimulai.

Dua orang datang untuk belajar Bahasa Inggris. Dua pemuda ini merupakan mahasiswa dari salah satu lembaga pendidikan di Jawa Timur. Mereka ingin belajar bahasa inggris untuk menghadapi ujian nasional.

Kalend Osen, atas mandat dari gurunya,  yang tampil untuk mengajari kedua mahasiswa ini. Proses belajar pun dimulai,  dengan penuh semangat Kalend mengajari kedua mahasiswa tersebut.

Ujian Nasional. Kedua murid tersebut berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Terima kasih kepada Kalend Osen, apa yang telah dilakukannya tidak berakhir sia-sia.

Bagaikan virus, berita menyebar bersama dengan setiap hembusan angin. Membisikkan ke telinga masyarakat bahwa “Seseorang di sana mampu mengajari Bahasa Inggris dengan mengagumkan.”

Sejak saat itu, nama Kalend Osen mulai naik ke permukaan. Orang silih berganti mendatanginya untuk belajar bahasa inggris. Satu orang, dua orang,  hingga puluhan orang.

Tahun 1977, Kalend Osen mendirikan sebuah lembaga kursus yang dinamainya BEC ( Basic English Course ). Lembaga yang akan mengubah wajah suatu desa. Dengan berdirinya BEC, orang berbondong-bondong datang ke BEC untuk menuntut ilmu, Bahasa Inggris.

Apakah sampai di situ? Tidak. “Good teacher raises a good student”. Kalend Osen tidak hanya belajar tentang Bahasa Inggris saja dari gurunya, Kyai Ahmad Yazid. Kalend Osen yang saat ini mewarisi kesederhanaan,  kebijaksanaan,  dan mimpi-mimpi dari gurunya tersebut.

Kalend tidak hanya mengajari muridnya untuk bisa Bahasa Inggris, lebih dari itu,  ia mengajari muridnya untuk bisa mengajarkannya. Guru mengajar murid, murid kemudian menjadi guru, guru menghasilkan guru baru. Begitulah siklus yang terjadi. Siklus itu terus berlangsung hingga detik ini.

Dari tangan dingin seorang Kalend Osen, guru tercipta. Dari guru-guru tersebut pusat-pusat pendidikan didirikan. Kini di sekitar BEC, tempat Kalend osen mengajar,  lembaga-lembaga baru tercipta. Tercatat saat ini,  tidak kurang dari 150 lembaga berdiri di kampung tersebut.

Ya… Kampung ini saat ini dikenal dengan julukan Kampung Inggris,  Pare – Kediri.

Kampung yang dulu sepi dan terpencil, kini menjadi kota yang ramai dikunjungi orang. Untuk apa? Untuk belajar Bahasa Inggris. Seiring berjalannya waktu, perekonomian di kampung tersebut berkembang pesat. Masyarakat kampung mulai merasakan dampak peningkatan kesejahteraan akibat pesatnya pertumbuhan ekonomi di kampung ini. Kalend Osen, pemuda yang keluar dari Pondok Pesantren karena keterbatasan ekonomi, telah berhasil menggerakkan batas-batas ekonomi suatu kampung.

Kampung Inggris Pare,  buah karya dari gurunya guru-guru kami, Bapak Kalend Osen. Sebuah karya yang akan terus diperjuangkan sebagai simbol harapan dan cita-cita mulia untuk mengentaskan kemiskinan dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan pendidikan.

Semua berawal dari cita-cita Alm. Kyai Ahmad Yazid kemudian Pak Kalend Osen hingga generasi Kampung Inggris saat ini. “A man may die, nations may rise and fall, but an idea lives on.” -John F. Kennedy-

Pare, sebenarnya telah dikenal hingga mancanegara setelah  University of Chicago press menerbitkan sebuah buku dari seorang  Antropologis sekaligus Professor dalam bidang Ilmu Sosial di Institute for Advanced Study di Princeton, Clifford James Geertz,  yang berjudul “The religion of Java”  dimana dalam buku itu Pare disamarkan dengan nama Modjokuto.

Clifford dapat menyelesaikan karyanya karena berkonsultasi dengan Kyai Ahmad Yazid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *